Dilema Mencari Kerja Setelah Lulus Sarjana

Menjadi seorang sarjana merupakan impian dan kebanggan tersendiri bagi kebanyakan orang di dunia bahkan bagi diri kita sendiri, dengan tujuan untuk membekali diri kita di masa mendatang (betul ngak?) ataupun untuk mengembangkan bakat kita sesuai dengan bidang yang ingin kita kembangkan, bahkan ada juga yang bertujuan untuk membuat bangga keluarga terlebih kedua orang tua kita termasuk saya sendiri hehehe.


Dan setelah di nyatakan lulus dan resmi menjadi seorang sarjana (asikkkkk lulus juga), tujuan utama kita selanjutnya adalah untuk mendapatkan suatu mata pekerjaan yang sesuai dengan jurusan ataupun skill yang kita miliki (hehe iya kalo ada skill???).

Dengan modal ijazah sarjana bahkan skill yang kita miliki, kita berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan bahkan sebagian besar yang menginginkan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang alias gaji yang besar, tapi sayang seribu sayang kenyataannya yang terjadi tidaklah seperti yang kita harapkan.

Ternyata mencari pekerjaan tidaklah semudah seperti yang kita bayangkan, justru kebanyakan sarjana sekarang ini harus bersabar menganggur begitu lama karena susahnya mendapat mata pekerjaan (tapiii ngak semua sarjana ya hehehe) dan meskipun sudah kesana kemari menyebarkan surat lamaran kerja kayak nyebarin surat undangan aje yaaaa😂, dan akhirnya setelah menunggu beberapa hari bahkan sampe berminggu-minggu ternyata tak kunjung juga ada panggilan tes ataupun interview (hehehe mirisssnyaaa), mau ngak mau ya harus kerja keras lagi mencari lowongan dan harus menulis lagi (semangatttt) dan harus mempersiapkan lamaran lagi sampai-sampai ngak perluh lagi melihat panduan bagaimana cara membuat surat lamaran kerja karena sangking seringnya  buat akhirnya sudah hafal mati setiap kalimat dan paragrafnya hahaha...

Selain itu yang ada isi kantong pun mulai terkuras untuk membeli keperluan yang kita butuhkan dalam membuat surat lamaran, bayangkan saja sekali buat lamaran perlu keluarkan uang berapa??? ya minimal Rp. 15.000 di tambah ongkos bensin buat antar lamaran di tambah lagi  jajan di jalanan (bagi yang ngak tahan liat makanan enak ya) kalau di hitung kemungkinan sampai sekitar Rp. 35.000 sekali antar lamaran dan misalkan kita menganggur paling lama 5 atau sampai 7 bulanan yaaaaa tinggal di kalikan saja berapa pengeluaran yang kita keluarkan dalam membuat dan mengantar surat lamaran selama menganggur tersebut (kalikan saja sendiri ya hehehe).


Dan setelah mendapatkan pekerjaan ternyata pekerjaan tersebut tidak sesuai bahkan jauh dari yang kita bayangkan, berharap dapat gaji besar ya minimal UMR/UMK la ya,,,tapi kenyataannya  jauh dari yang kita harapkan😂 dan boro-boro UMR/UMK mendekati jumlahnya UMR/UMK saja mungkin masih jauh sehingga membuat kita harus mengelus dada dan kadang merasa malu jika ada yang bertanya mengenai pekerjaan dan berapa gaji yang kita dapatkan terlebih jika kita di banding-bandingkan dengan teman-teman seangkatan yang sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan yang mapam.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan sekarang ini membuat kita atau para lulusan sarjana dilema mencari kerja sehingga rela melamar pekerjaan apapun (yang penting halal) meskipun tidak sesuai bidangnya.
Tapi bagaimana pun juga kita harus tetap bersyukur yaaaa dan sabar menjalaninya dari pada hanya diam di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa yang ada hanya berharap kepada orang tua setidaknya pekerjaan yang kita dapatkan saat ini meskipun dengan gaji kecil tetapi bisa mengurangi sedikit pengeluaran orang tua bahkan kita bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarga meskipun belum seberapa yang bisa dapat kita bantu.

Jadi jangan pernah menyerah dengan keadaan, jalani, nikmati dan syukuri sambil berdoa, berfikir dan berusaha karena mendapatkan sesuatu dari hasil keringat sendiri itu nikmat walaupun sedikit yang penting bersyukur, karena “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan ekras adalah kemenangan yang hakiki” (Mahatma Gandhi).